Tian Sudah Kembali, Uang Sisa Rp. 500.000

Sumber : Tribun-Kaltim

Kisah Bocah 9 Tahun Bawa Kabur Duit Rp 92 JutaAhmad Legal Cifiandy (9) akhirnya kembali setelah menghilang selama empat hari.
Fian pulang ke rumahnya di Jl Wijaya Kusuma No 110, Cinere, Depok, Jawa Barat, Selasa (1/4) sekitar pukul 09.00 WIB. Ia diantar empat lelaki. Pembantu rumah tangga Ahmad Budiarto (bukan Mugiarto), ayah Fian, Siti, membukakan pintu saat bocah ingusan ini kembali.
Bikin geger karena saat kabur juga membawa duit ayahnya sebesar 10 ribu dolar AS atau Rp 92 juta (kurs Rp 9.200 per dolar AS), Fian terlihat tak berubah. Seperti biasa, ia tetap ceria.
“Fian pulang pukul 09.00 WIB. Nggak tahu kalau (pengantar) itu polisi atau bukan. Mereka nggak pakai pakaian polisi,” ujarnya.
Fian yang kabur karena marah dihukum ibunya lantaran tak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) juga membawa duit ayahnya, 10 ribu dolar AS atau Rp 92 juta (kurs Rp 9.200 per dolar AS).
Namun, saat tiba di rumahnya, duit di kantong murid kelas empat sekolah dasar itu tinggal Rp 500 ribu.
Belum diketahui untuk apa saja Fian menggunakan uang segepok itu, selain membeli Playstation 3, MP3, dan telepon selular.
Namun Budiarto, tak mempermasalahkannya.
“Ya, saya tidak masalah. Kan yang penting anak kembali,” kata Budiarto kepada wartawan di Polsek Limo, Depok, tempat Fian diperiksa.
Menurut Budiarto, Fian ditemukan oleh seorang sopir bajaj di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan.
“Waktu itu Fian jalan sendirian malam-malam dan ditemukan oleh Jono sopir bajaj,” ujar Budiarto.
Tanya Setan
Di kantor polisi, sikap periang bocah ini terlihat saat diminta keterangan oleh petugas.
Fian yang mengenakan baju seragam warna putih dan celana warna biru tampak asyik mengobrol dengan seorang pria yang mengenakan kemeja lengan panjang dan celana warna hitam di ruang Reskrim Polsek Limo.
Fian duduk berdampingan dengan pria itu. Siswa kelas empat SD Dwi Matra itu sesekali tertawa dan tersenyum ketika bercerita.
Tangannya juga sesekali memainkan pulpen.
Sekitar 10 jurnalis TV bergantian mengintip dari balik kaca nako yang berdebu. Kameramen mengabadikan gambar.
Dengan lancar, Fian menceritakan “petualangannya” selama empat hari.
Kepada jurnalis yang menanyainya, Fian mengaku kabur ke rumah
engkongnya.
Tapi, saat wartawan bertanya di mana rumah engkongnya, keluarlah jawaban yang tak disangka-sangka.
“Tanya saja sama setan,” kata Fian sambil cengar-cengir. Belasan jurnalis di depannya jadi bengong, tapi tak lama, terdengar tawa berderai.
Budiarto juga hanya diam mendengar jawaban Fian itu.
Fian juga bercerita kalau ia sempat menginap di Hotel Tulip. Namun saat ditanya dengan siapa dia menginap, Fian lagi-lagi menjawab, “Tanya aja sama setan.”
Fian mengaku tidak tahu di mana Hotel Tulip itu berada.
Fian berbicara pada wartawan didampingi ayahnya, Ahmad Budiarto. Sebelumnya mereka dimintai keterangan polisi selama 2 jam.
Budiarto juga bersyukur anaknya selamat.
Dia juga akan mencabut semua laporan yang telah disampaikan kepada polisi.
Dia telah melaporkan dua hal pada polisi yaitu anak hilang dan pencurian di rumah tangga, Fian tampak selalu menutupi wajahnya dengan tas kecil untuk menghindari sorotan kamera wartawan.
Saat berbicara pada pers, Budiarto sempat memegang paha Fian. Namun Fian berteriak, “Jangan dipukul!”
Fian juga tidak bisa menjelaskan ke mana uang Rp 92 juta milik ayahnya dia habiskan. Saat ditanya wartawan perihal ke mana uang itu, Fian hanya merangkul sang ayah.
Tukar Duit
Kisah bocah ini memang bikin geleng-geleng kepala. Setelah membawa duit dolar ayahnya, entah bagaimana ia tahu uang itu bisa ditukarkan di money changer.
Di hari pertama kabur, Fian mendatangi Cilandak Town Square (Citos). Di sana, ia bertemu dengan satpam Citos bernama Asep Eka dan sempat diamankan selama dua jam.
Fian menunjukkan duit yang rencananya akan dipakai keluarga Budiato naik umrah tahun ini.
Fian lalu meminta Asep menukarkan uang dolar itu ke money changer di daerah Cilandak sebesar 100 dolar AS.
Ia juga meminta Asep mengantarnya ke Melawai dan menukarkan kembali uang dolar sebesar 800 dolar AS.
Setelah menukarkan uang tersebut, Fian meminta Asep membelikannya MP3, Playstation 3, dan ponsel di Blok M.
Pihak money changer tidak curiga sedikit pun. Karena sebelumnya Fian datang bersama Asep yang dianggap sebagai pamannya Fian.
Fian memberi duit 500 dolar AS (Rp 4,5 juta) sebagai imbalan atas jasanya mengantarnya ke money changer.
Asep akhirnya ditahan petugas karena menerima duit tersebut. Namun, kemarin, satpam ini dibebaskan setelah Budiarto mencabut laporannya.
Asep berjanji akan mengembalikan duit yang diterimanya dari Fian.
Kapolsek Limo AKP Supoyo mengatakan Asep dibebaskan karena orangtua Fian tak lagi mempermasalahkan lagi duit tersebut.
Pakai Paranormal
Usaha polisi dan Budiarto mencari Fian berlangsung selama tiga hari.
Selain itu, tetangga Budiarto juga membantu mencari.
Puluhan pamflet kehilangan Fian ditempel di kawasan Cilandak. Ada tiga foto Fian dipasang di pamflet itu.
Setiap panflet bertuliskan “Pulanglah Fian, mama sayang kamu”. Pamflet ini ditempel di tembok-tembok perumahan, warung-warung, tempat mangkal ojek dan lainnya.
Budiarto juga memakai jasa paranormal. “Saya sudah cari orang pinter. Katanya dia masih di daerah Pondok Labu, di sekitar masjid katanya. Tapi setelah dicari-cari kok nggak ketemu,” ujarnya.
Budiarto juga mencari anak keduanya itu ke masjid-masjid sekitar kediamannya di Cinere dan Pondok Labu. Namun hasilnya nihil.
“Saya besok (hari ini) sama orang pinter itu disuruh ngaji. Katanya Selasa besok Fian balik,” ujar Budiarto menirukan perkataan sang paranormal.
Fian, lanjut Budi, menurut sang paranormal bersama seorang pria yang berusia antara 15-17 tahun.
Paranormal itu salah. Fian ditemukan kemarin, tidak bersama pemuda usia 15-17 tahun. Ia balik di rumahnya bersama empat pria dewasa.
Sering Dibedakan
Meski ulah Fian bisa membuat tersenyum, namun pelarian bocah ini juga menimbulkan tanda tanya.
Apa gerangan yang membuat Fian nekad melarikan duit orangtuanya dan menghilang selama empat hari?
Guru di sekolah Fian, SD Dwi Matra, mengaku Fian kerap bercerita orangtuanya kerap membeda-bedakan dengan kakaknya, Vidi, dalam hal kasih sayang dan pemberian.
“Menurut kami, ini problem di rumah. Dia sering cerita suka dibeda-bedakan dengan kakaknya,” ujar Purwanto, guru Fian.
Menurut guru bahasa Indonesia dan IPS ini, Fian terkenal suka mentraktir teman-temannya di sekolah. Kebiasaan Fian tersebut dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu.
“Kami sih tidak tahu uangnya dari mana,” kata Purwanto.
Fian juga terkenal suka bermain game. Bahkan, saat kabur dan keluarganya panik, Jumat (28/3), ia asyik bermain game di Pondok Indah Mall bersama teman sekelasnya yang bernama Vikar.
“Vikar bilang Fian ingin nginap di rumahnya, tetapi Vikar nggak berani membawa Fian ke rumahnya,” jelas Purwanto.
Kelakuan lain Fian yang tergolong aneh adalah suka mengurung diri di kamar mandi sekolah.
“Tidak hanya saat jam istirahat atau jam kosong pelajaran, tapi saat kegiatan belajar mengajar juga Fian suka tiba-tiba mengunci diri di kamar mandi,” kata seorang karyawan SD Islam Dwi Matra, Iwan.
Fian baru keluar dari kamar mandi kalau dibujuk rayu pihak sekolah dengan iming-iming uang.
“Dia baru mau keluar kalau dikasih uang sekitar Rp 2.000,” ujarnya.
Pihak sekolah, lanjut Iwan, tidak tahu kenapa Fian seperti itu. “Setiap ditanya kenapa, dia selalu diam dan tak mau menjawab,” jelasnya.
Kemungkinan Diperalat
Psikiater Dadang Hawari melihat kejanggalan dalam kasus kaburnya Fian.
Dia menduga Fian bisa saja diperalat orang dewasa.
“Anak sembilan tahun belum tahu uang besar itu, apalagi uang asing yang jumlahnya sangat besar. Ada kemungkinan diperalat orang dewasa,” kata Dadang seperti dikutip di detikcom.
Dia menilai dari sisi psikologis mungkin saja Fian memiliki gangguan perilaku.
Namun, gangguan perilaku itu tidak akan sampai memicu perbuatan senekat itu.
“Yang jadi pertanyaan, mengapa uang itu mudah diambil oleh anaknya. Itu terlalu banyak, disimpan di mana,” kata Dadang.
Dadang juga melihat, banyak ketidaklaziman dalam kasus ini. Dia tidak yakin, Fian kabur dari rumah hanya karena dimarahi karena tidak mengerjakan PR.
Walaupun ada gangguan psikologis, kata Dadang, tetap saja proses menghilangnya Fian sambil menggondol uang sebesar itu tidak masuk akal.
“Yang jadi pertanyaan saya, kenapa pula satpam itu mau menerima uang 500 dolar. Kenapa satpam tidak curiga, kasus ini sangat aneh,” ungkap Dadang.
Dadang melihat kasus ini sebagai kasus kriminal yang memanfaatkan anak di bawah umur.
“Tidak mungkin ini bisa berdiri sendiri, ada hal lain yang mendorong anak ini hingga mau berbuat seperti ini,” tutupnya.
Kak Seto
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, menilai
tindakan nekad Fian diambil sebagai bentuk kekecewaan kepada orangtua.
“Saya kira lebih karena kecewa. Tanpa sadar orangtua tidak memahami jiwa anak, mungkin ada masalah lain yang dijadikan anak mengambil uang itu,” kata pecinta anak yang akrab disapa Kak Seto ini.
Menurutnya, bisa dimungkinkan ada kondisi yang tidak kondusif dalam keluarga mereka.
Selain itu, anak hendaknya tidak dijadikan pelaku dalam kasus ini melainkan dijadikan korban.
“Anak tidak mau dipojokkan. Dia punya mekanisme pertahanan diri. Lama kelamaan dia tidak kuat dengan melarikan diri,” imbuh dia.
Sikap Fian ini, lanjut Kak Seto, bisa dikarenakan untuk menyelamatkan diri dari tekanan dan cap negatif yang sering dilontarkan orangtua. Orangtua hendaknya mengubah cara mendidik dan mengasuh yang selama ini keliru.
“Akhirnya dia semakin akrab dengan lingkungan dan sering lari dari rumah. Ini tidak wajar karena dia tidak merasa nyaman di rumah,” urai dia.
Kak Seto menjelaskan, mendidik anak tidak hanya dengan mulut atau tangan. Melainkan dengan hati nurani.
Cara mendidik dengan lebih banyak bicara dan main tangan justru menciptakan bibit permusuhan, pemberontakan, dan perlawanan dari anak.
“Orangtua itu tujuh kali berbicara, mendengar satu kali. Coba mohon dibalik,” ujar Kak Seto.
lihat tian kabur bawa $ 10.000
lihat tips mendidik anak hiperaktif
lihat mainan edukatif

2 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    Rahmat GIS berkata,

    Kita sering menginginkan anak memahami dan menuruti keinginan kita, tapi kadang kita lalai untuk hanya sekedar bertanya apa keinginan anak.. anak adalah makhluq hidup yang masih kecil baik pertumbuhan dan perkembangannya. seyogyanya kita bisa arif dan bijak dalam membimbing dalam bingkai kesabaran yang maksimal.. karena bentukan pendidikan dan bagaimana cara kita mengajari anak sekarang adalah pribadi dia di masa yang akan datang.. Robbi Habli milladunka dzurriyyatan toyyibah. Amin.

  2. 2

    ratna berkata,

    bagaimanakah peran ibunya di rmh??
    menurut saya, seorang ibu harus mengerti karakter masing2 anaknya. karna cara penanganan kita ke anak yg satu blm tentu bisa diterapkan ke anak yg lainnya.
    seorang ibu harus bisa mengerti keinginan anaknya dan mengerti bagaimana cara meredam emosi anak.
    bukan berarti membelenggu emsi anak tanpa mau mendengarkan penjelasan anak,, kita harus tau knp anak kita marah,knp dia tdk menyukai hal itu, dan knp dia mengambil sikap seperti itu.
    semua itu pasti ada alasannya. kita harus bisa menerima pendapat dari anak. karena setiap anak mempunyai jiwa dan karakternya masing2…..


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda