Kasus Anak Hiperaktif : Kabur Bawa $ 10.000

Sumber : Kompas
Selasa, 1 April 2008 | 04:02 WIB

LIMO, SELASA-JUTAWAN cilik, Ahmad Legal Cifiandi (9), yang hilang setelah menukarkan uang 10.000 dollar AS atau sekitar Rp 92,5 juta, hingga semalam belum diketahui keberadaannya.

Bocah itu menghilang setelah sempat ditampung di rumah seorang petugas satpam Cilandak Town Square (Citos). Ahmad Legal Cifiandi yang akrab disapa Vian kabur dari rumahnya di Limo, Cinere, Depok, Kamis (27/3) malam. Esoknya, Vian sempat muncul di sekolahnya di dekat Citos. Namun siswa kelas empat SD tersebut justru kabur naik bajaj ketika hendak diserahkan kepada gurunya.

“Tadi siang kakak kelas Vian mengaku melihat anak saya di depan Citos. Dia membawa tas biru di depan sebuah sedan hitam. Tapi belum jelas apakah itu benar-benar Vian atau bukan,” kata Vivi Novita, ibunda Vian ketika dihubungi Warta Kota, kemarin.

Vian adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Bahkan, bila tak ada aral melintang, tak lama lagi Vian akan punya adik lagi. Menurut sang ibu, Vian acaop bermain di Citos, Pondokindah Mal, dan Cinere Mal. Vian merupakan siswa kelas tiga SD Dwi Matra di belakang Citos.

“Laporan terakhir, anak dengan ciri-ciri seperti Vian ada di Cilandak Jakarta Selatan. Tetapi kami belum dapat memastikan apakah anak itu adalah anak yang dimaksud. Saat ini kami masih terus melakukan pencarian,” kata Kapolsek Limo AKP Supoyo, kemarin. Keluarga Vian melaporkan hilangnya Vian ke polisi pada Sabtu lalu. Mereka menyatakan, ketika meninggalkan rumah, Vian mengenakan kaos basket tanpa lengan warna hitam-putih.

Ayah Vian, Ahmad Mugianto, mengatakan anaknya kabur membawa uang Rp 10.000 dollar AS. “Dia kabur malam Jumat. Saya baru sadar ia bawa uang sehabis saya salat subuh,” ucap notaris itu, Senin (31/3).

Menurut Mugianto, Kamis malam itu Vian menjalani hukuman harus tidur di ruang tamu. Vian dihukum oleh ibunya karena tidak mengerjakan PR. Mugianto mengatakan, pada pukul 21.00, Vian dipergoki pembantu rumah tangga masih ada di sofa. Sekitar pukul 20.00, Mugianto tiba di rumah dari tempat kerjanya. Namun Mugianto hanya meletakkan tas kerja lalu pergi bersama teman yang menjemputnya. Di tas kerja itu, Mugianto menyimpan uang 10.000 dollar AS.

Penelusuran yang dilakukan Mugianto menunjukkan, tujuan pertama Vian ketika kabur dari rumah pada Kamis malam itu adalah Citos di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Mugianto juga mendapatkan informasi bahwa di mal tersebut putranya ditemui petugas satpam berinisial AE. Ketika Citos tutup, Vian dibawa ke rumah AE.

Diduga, di rumah petugas satpam itu, Vian menunjukkan uang yang dibawanya. Dia minta AE menyimpan uang tersebut namun si petugas satpam menolak. “Sekuriti itu bilang ia hanya bertugas mengamankan,” kata Mugianto. Vian kemudian minta AE menukarkan uang 100 dolar AS di sebuah money changer di Cilandak.

Mengutip keterangan AE, menurut Mugianto, Jumat pagi AE minta izin komandannya untuk memulangkan Vian. Izin pun diberikan. Namun Vian justru minta ditemani ke Melawai untuk menukarkan uang dolar sebesar 800 dollar AS. Vian lantas minta AE membelikannya MP3, Playstation 3, dan handphone di Blok M.

AE lalu mengantarkan Vian ke sekolahnya, SD Dwi Matra, di belakang Citos. “Itu karena diminta Vian juga. Tetapi sampai di sana, ketika AE ketemu salah satu guru Vian, Vian justru kabur naik bajaj,” kata Mugianto. Vian kemudian balik lagi ke money changer di Melawai untuk kembali menukar uang dollar ke rupiah. Vian dilayani tanpa kecurigaan petugas money changer. Menurut Mugianto, petugas money changer mengira AE adalah paman Vian. Mereka pun tidak curiga ketika Vian datang lagi untuk menukar uang dalam jumlah lebih besar.

Kepala satpam Citos, Sukardi, ketika ditemui Warta Kota Senin (31/3) petang membenarkan bahwa anak buahnya yang bernama Asep Eka (AE) dipanggil aparat Polsektro Cilandak untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di Polsektro Limo, Depok. “Saya kaget dan bingung ketika mendengar kabar itu, saya benar-benar tidak mengetahui duduk ceritanya. Jadi, saya tidak bisa memberikan keterangan,” ujar Sukardi.

Bahkan Sukardi mengaku heran mengapa saat ada masalah sepelik itu anak buahnya tidak membuat laporan. Sukardi juga mengaku tidak tahu kabar tentang uang 500 dollar AS yang diberikan si bocah kepada Asep Eka sebagai tanda terima kasih.

Kapolsektro Cilandak, Kompol Makmur Simbolon, semalam mengatakan Asep sudah diserahkan ke Polsektro Limo. “Sudah kami mintai keterangan Sabtu siang, dia dan uang 500 dollar AS kami serahkan ke Polsek Limo,” katanya. (Warta Kota/Mir, Yos, M1)

lihat tian sudah kembali
lihat juga mengenal anak hiperaktif di sekolah
lihat tips mendidik anak hiperaktif
lihat mainan edukatif

Ungkapkan pendapat Anda