sumber : parents guide
Dalam soal makan, anaklah yang benar-benar tahu apa yang ia perlukan. Jadi, jangan pernah memaksanya!
“Bingung aku. Anakku sudah seminggu maunya makan telur saja! Kalau bisulan bagaimana?”
“Masih bagus mau makan. Anakku jarang sekali makan. Maunya main melulu…”
“Begitu ya? Kalau anakku sih makannya teratur. Apa-apa mau. Cuma ya itu, porsinya kayak kucing! Sedikit sekali!”
Apakah Anda akrab dengan keluhan-keluhan di atas? Kalau ya, Anda tidak sendiri. Di mana-mana, anak batita memang sedang melambat pertumbuhannya, sehingga kebutuhan makanannya pun berkurang. Tidak hanya itu, anak seusia ini juga lebih tertarik pada segala sesuatu di sekitar mereka, dan kurang berminat soal makan. Jadi tak heran bila anak batita sering susah makan.
Menghadapi anak yang susah makan, para orangtua biasanya malah semakin ngotot. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan gizi anak tersebut. Tiap hari para orangtua sibuk melakukan segala cara untuk memastikan anak batitanya memakan semua makanan yang mereka hidangkan. Hasilnya? Yah, mereka tetap tidak mau makan dan keluhan orang tua tak juga berhenti.
* 7 Fakta Soal Makan
Tahukah Anda, bahwa sikap orangtua yang terlalu memaksakan kehendak demi memenuhi kebutuhan gizi anak, justru merupakan penyebab timbulnya berbagai ‘kesulitan makan’? Dalam hal makan, anak kecil sebenarnya lebih mengetahui apa yang ia perlukan untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Mereka lebih mengenal dan memahami dirinya. Sementara kita lebih sering tidak tahu, bahkan tak mau tahu.
Berikut ini fakta-fakta soal makan yang si kecil lebih tahu daripada siapa pun:
* Porsinya sangat sedikit. Jangan samakan porsi anak batita dengan porsi anak balita, apalagi porsi kita! Sekedar gambaran, porsi makan anak batita adalah 2/3 porsi anak usia 4-6 tahun, atau ¼-1/2 porsi orang dewasa. Jadi, lebih baik memberikan makanan sedikit dulu, lalu tambah lagi kalau si kecil mau.
* Nafsu makan anak tidak sama. Beda anak beda nafsu makan. Bahkan, pada anak yang sama pun nafsu makan bisa berbeda dari waktu ke waktu. Dan perbedaan itu bisa sangat mencolok. Mungkin saja paginya si kecil makan dengan lahap, tapi siangnya makannya sedikit. Jadi sebaiknya tak usah Anda mempermasalahkannya.
* Lambung kecil, pencernaan efisien. Makin muda usia seseorang, makin efisienlah pencernaannya. Ditambah ukuran lambung yang relatif kecil, jangan heran bila anak batita tak sanggup mengkonsumsi banyak makanan. Namun biasanya mereka akan cepat lapar lagi. Itulah sebabnya, di samping makan ‘besar’ 3 kali sehari, anak batita perlu disediakan makanan selingan 2-3 kali sepanjang hari.
* Bila kenyang minum, maka tak ingin makan! Kita sering lupa ‘hukum alam’ yang satu ini. Kita berharap si kecil lebih banyak makan makanan padat, namun kita lebih sering memberinya susu atau minuman manis lainnya (jus/sari buah, teh manis). Perlu diketahui, mulai usia 7 bulan anak sebenarnya hanya perlu minum ASI (atau susu lainnya, jika terpaksa) 400 ml (2 cangkir) dalam 24 jam. Jadi, jika si kecil biasa menyusu sampai kenyang pagi-pagi bangun tidur dan malam hari menjelang tidur, usahakan tak memberinya ASI atau minuman manis lainnya sepanjang siang.
* Kesukaan/ketidaksukaan masih berubah. Kalau hari ini anak tak mau makan ikan tuna dan brokoli, belum tentu ia bakal tak suka ikan tuna dan brokoli selamanya. Bisa saja minggu depan – setelah kita sepuluh kali mencoba menawarkannya – anak mau memakannya. Begitu juga, kesukaan anak batita pada makanan yang itu-itu saja akan berkurang seiring perkembangannya. Jadi, bersabarlah jika menawarkan makanan tertentu.
* Anak tak bakal mau kelaparan. Siapa mau kelaparan? Anak batita belum kenal gengsi. Kalau lapar, mereka pasti minta makan. Jadi bila saat ini si kecil belum mau makan, kemungkinan ia memang belum lapar. Jadi, jangan buang energi untuk memaksanya makan. Singkirkan saja dulu makan itu untuk sementara. Beberapa saat kemudian, coba tawarkan lagi. Kalau masih belum mau juga, ya simpan kembali. Begitu terus sampai akhirnya anak mau memakannya.
* Ketidaksukaan makan berawal dari sikap orang di sekitarnya. Tanpa sadar, kita sering (membiarkan orang) menunjukkan ketidaksetujuan bila si kecil tak menyukai makanan tertentu. Misalnya menampakkan wajah tidak suka (mengerutkan kening, membelalakkan mata); menyalahkan (“Kok tidak dihabiskan?”); atau lewat gerak tubuh yang tidak menyenangkan (mengambil/menyingkirkan makanan dengan kasar). Berhati-hatilah, karena perhatian negatif yang diberikan saat anak tak mau makan justru akan menguatkan perilaku tersebut pada anak.
Terakhir, ingatlah pesan yang sering disampaikan para pakar perkembangan anak untuk membangun sikap positif anak terhadap makanan:
Tugas orangtua adalah menentukan makanan yang akan disajikan, bagaimana dan kapan menyajikannya.
Tugas anak menentukan berapa banyak makanan yang dimakan, menghabiskannya atau tidak menghabiskannya. PG
lihat juga :
anak susah makan? minum madu
tomat dongkrak nafsu makan anak
lihat mainan edukatif

Lita berkata,
Juni 9, 2009 @ 4:28 pm
Wah..sy trbantu sekali setelah membaca artikel diatas.trnyata selama ini sy salah menyikapi anak yg susah makan…mudah2an makin banyak ya bunda2 yg baca..jd ga bingung deh kl si kecil ga mo makan..